" pagi winda, udah cantik nih pagi - pagi, mau kemana ?"
Dengan santai winda menjawab " pagi juga darwin, mau ngantor nih, lu gak ngantor ?, malah asik selonjoran ".
" nanti deh agak siang perginya, lagian di kantor, bos lagi gak ada tuh, winda ! nanti sore lu ada acara gak, kalau gak ada kita jalan yu, sepedaan keliling komplek, udah lama lho kita gak sepedaan lagi" perkataan darwin membuat winda sedikit tersentak. Ya mereka mmang sudah lama tidak sepedaan lagi sejak winda di terima bekerja di sebuah kantor.
Terakhir, hanya saat mereka merayakan kelulusan sekolah.
" hey winda, gmna, bisakah ?"
" eh, oh, iya, bisa - bisa, lagian aku gak terlalu sibuk juga kok di kantor, sepertinya cuaca hari ini cocok untuk bersepeda". Ternyata winda melamun, membayangkan saat mereka terakhir kali bersama. Seketika wendi adik darwin mengagetkannya.
" dor, ayo berangkat, malah ngelamun, nanti telat lho"
" eh, iya wen ayo". sambil mengekor masuk kedalam mobil honda brio milik wendi. Wendi adalah teman sekantorku sekaligus atasanku juga adik darwin. Mereka berdua berbeda, adiknya jauh lebih dewasa daripada kakaknya. Sedangkan darwin dia agak sedikit pemalas. Sepanjang perjalanan kami hanya diam satu sama lain. Sampai wendi mengeluarkan kalimat pertamanya.
" winda, kamu yakin akan bersepeda dengannya ?". Aku sejenak berpikir lalu menjawab.
" ya, aku yakin, dia tak pernah mengingkari janjinya bukan !" kataku meyakinkan.
" ya aku harap begitu " kata wendi ragu - ragu.
" kenapa kau bicara begitu wen ?" tanya winda keheranan.
" ah, tidak, ayo cepat turun, kita sudah sampai, dan semoga nanti sore akan menynangkan " kata wendi berusaha tenang.
" baik, terima kasih " .
Wendi tak seperti kakaknya yang selalu menggoda winda dengan kata seperti tuan putri atau lainnya. Dia tipikal pria yang serius, apapun yang ia ucapkan tak pernah di selingi bercanda. Terkadang aku merasa takut jika ia memperlakukanku secara lebih.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Aku pulang sendiri karna wendi sedang ada pertemuan kantor. Aku celingukan menunggu taksi yang sudah ku pesan terlebih dulu, setelah tiba aku langsung naik dan melesat menuju rumah. Berganti pakaian dan bersiap kembali pergi menuju taman menunggu darwin. Kami tak pernah bertemu di depan rumah ketika akan pergi bersepeda. Tempat inilah yang menjadi tempat pertemuan antara aku dan darwin.
" langit malam ini memang indah dengan pantulan cahaya bulan purnama " kataku dalam hati. Namun sang waktu telah menunjukan pukul tujuh malam, darwin masih belum tiba di tempat pertemuan mereka. Winda semakin gelisah, sampai akhirnya hujan turun begitu deras membasahin seluruh pakaian yang ia kenakan saat itu.
Masih tetap menunggu dan menunggu dibawah hujan yang masih turun dengan derasnya. Badannya sudah mengigil kedinginan tapi ia masih tegar menunggu darwin di tempat itu. Matanya sudah berkunang - kunang. Kepalanya sudah terasa pusing, remang - remang ia melihat mobil berwarna putih mendekatinya lalu tak lama ia pingsan di tempat itu.
" winda, aku tau akan seperti ini akhirnya, darwin memang bodoh, biar aku beri dia pelajaran " kata wendi seraya membawanya ke rumah sakit terdekat.
Keesokan paginya, winda terbangun dan kaget melihat dirinya berada di ruangan serba putih.
" oh tidak, dmna aku ? apa aku berada di surga ? apa aku sudah mati ? apa yang telah terjadi ? bagaimana dengan darwin ?, dia pasti sedang menungguku d�isana ?"
Karena ocehan winda yang tak berhenti membuat wendi terbangun.
" winda, akhirnya kau sadar juga, aku sampai tertidur disini menunggumu tersadar, semalam kau pingsan di taman, dan aku membawamu kasini karna tak mngkin aku membiarkanmu sendirian "
" sendiru, bukannya darwin ada beesamaku semalam, kami bersenang - senang menikmati malam dengan bersepeda "
" kamu itu bagaimana dia tidak datang menepati janjinya, dia pergi bersama dua teman wanitanya, kamu hanya bermimpi winda "
mendengar kalimat itu keluar dari mulut wendi, seketika aur mata winda jatuh membanjiri pipinya. dia menangis tersedu karna darwin tak menenpati janjinya. Wendi menghampirinya. Menangkup pipi manis winda.
" sudah, dia tak seharusnya kau tangisi winda, aku sudah memberi pelajaran padanya "
" tapi wendi.. " sebelum melanjutkan kalimatnya wendi segera memeluk tubuh mungilnya mendekapnya erat. Seketika air mata winda kembali berjatuhan karna bahagia. Karna wendi selalu berada di sampingnya ketika ia sedang membutuhkannya.
THE END..