Seluruh panitia kegiatan pramuka telah berkumpul di depan pintu aula untuk mengadakan rapat kepramukaan. Aku beserta ketujuh rekan sesama dewan bertugas untuk menuntun dan memantau jalannya kegiatan. Namun pandanganku kala itu tak dapat lepas dari seorang pria tinggi,tegap, dan berkumis tipis yang sedang berada tepat di depan pintu kantor kepala sekolah. Sangat menawan, aku terpesona hingga rekanku mengagetkanku.
" hayoo, mandangin siapa !! " sapa diani yang tengah lewat di belakangku.
" enggak kok, gak ada yang dilihatin " katakku sambil mencari dimana dia berada.
" bohong, ketahuan celingukan tuh cari orang " katanya memojokanku.
" ah, sudahlah, ayo ke aula, nanti ka panji marah lagi kita terlambat, kayak gak tau aja kalau dia ngambek ". katakku seraya mengajaknya pergi ke aula.
Setibanya di aula ka panji menghadangku dan membawaku ke belakang aula. Di bawah pohon besar dia membawaku ke dalam pelukannya. Aku meronta mencoba melepaskan diri. Namun sulit cengkramannya sangat kuat.
" kak tolong lepaskan aku, ini sekolah tak seharusnya kau melakukan ini pada bawahanmu sendiri kak " kataku sambil terus meronta.
" tolonglah nina, aku mencintaimu dari pertama aku melihatmu " kata - katanya berhasill membuatku tak mampu berkata.
Masih dalam pelukannya aku dapat mendengarkan debaran jantungnya yang sangat kencang.
" degup jantungmu tidak stabil kak, beri aku waktu sesaat untuk berpikir, dan kamu pimpinlah rapat dengan baik bersikaplah profesional di depan semua anggotamu, lupakan dulu masalah kita " sambil melepaskan tangannya dari bahuku dan mengajaknya kembali ke aula.
" sebelumnya terima kasih " sambil berjalan melaluiku. Aku sendiri terdiam di depan pintu selama beberapa menit.
Tarik nafas dalam - dalam lalu hembuskan, semua kursi terisi penuh dan hanya bangku sebelah evan yang kosong, kini jantungku yang berdegup kencang. Memang sudah biasa aku duduk dengannya pada acara seperti ini, namun kali ini rasanya lain. Karena ada yang berbeda dalam dirinya, dia terlihat begitu mempesona. Dia berhasil membuatku tak berkonsentarsi hari ini.
" hey na, tak biasanya kau melamun kenapa hari ini kau sering melamun !! " tanya ludwig padaku yang terlonjak kaget gara - gara ulahnya barusan.
" maaf, sepertinya aku kurang enak badan " kataku, yang tiba - tiba merasa pusing.
" eh iya na, badan lu panas bener, lu balik gih, minta ijin sana sama kak panji, biar urusan ini evan yang tulis " kata ludwig menyuruhku untuk segera pulang, namun sepertinya aku tak dapat pulang sekarang, karna rapat masih berlangsung.
" enggak deh, nanti aja gua balik kalau udah beres rapat, gua gak mau gangguin kak panji " kataku mnolak permintaan ludwig.
Rasa ngantuk yang muncul tiba - tiba, membuatku tertidur pada saat rapat hingga rapat selesai. Sampai kak panji mengahmpiriku dan mencoba membangunkanku namun aku masih saja terlelap.
" kenapa dia ?? " kata kak panji pada evan, yang tepat duduk di sebelahku.
Hanya gelengan kepala dari evan untuk jawaban kak panji sambil mengangkat tangan, lalu ludwiglah yang menjawab.
" dia demam kak, tadi udah aku suruh pulang, tapi dia gak mau, katanya takut gangguin kak panji " kata ludwig menjelaskan dengan baik.
" baiklah kalian temani dia disini, aku akan menunggunya di mobilnya " kata kak panji sambil mencari letak kunci mobilku dalam tas.
Mereka menungguku hingga aku benar - benar terbangun dari mimpiku. Ya aku bermimpi menikah dengan seorang pria memakai tuksedo hitam. Entah siapa dia, yang aku tau dia pria yang manis, tinggi dan memiliki kumis yang tipis. kami berfua tersenyum sambil menyalami para tamu yang hadir di pesta yang megah itu. Setelah resepsi selesai dan berfoto dia memelukku dengan seblah tangannya dan mencium keningku sesekali namun ciumannya sangat dalam dan memiliki rasa sayang yang kuat. Membuat wajahku merah padam. Setelah gedung tampak sepi dia mengangkat daguku, memiringkan wajahnya lalu memejamkan matanya dan hendak menempelkan bibirnya di bibirku.
Namun PRANKK !! . Aku tebangun ketika mendengar suara snar drum yang dipukul ludwig kala itu. Membuat mimpiku buyar saja.
" huh, akhirnya bangun juga lu, kita udah akaran nungguin lu disini tau, lama bngt si lu tidur " sahut diani sudah kesal.
" iya, gua kira lu mau nginep disini " sahut indah
" lu mimpi ciuman ya na, daribtadi lu tidur sambil manyun - manyun segala, pasti mimpi ciuman bareng gue kan. Hahaha " kata evan menggodaku.
" apaan si, siapa juga yang mimpi ciuman bareng lu van, jijay bajay dah, mending gua mimpi dicium daniel raddcliff dari pada sama lu van ". kataku pada evan yang tengah menghidaku.
Begitulah dia jika berhasil menggodaku. Tapi kumis tipisnya mengingatkanku pada sosok pria dalam mimpiku tadi. Tapi masa iya itu evan. Segera ku tepis pikiranku itu dari kepalaku bangun sambil sedikit sempoyongan.
" buruan balik keburu ujan lho " katakku mengajak mereka pulang.
BERSAMBUNG, " SATU PER DUA " part satu.