Berjalan dengan gontai menuju tempat dimana mobilku terparkir. Sambil merutuki diri sendiri, sebab ia menebak mimpiku tadi dengan tepat. Namun agak sedikit meleset karena bibirnya tidak menempel tepat. Sudahlah, mau bagaimna lagi. Setibanya di parkiran aku segera membuka pintu mobil dan kaget karna ada seseorang di jok supir.
" hai, cepat naik, nanti hujan " katanya sambil menyuruhku untuk segera naik.
" kenapa kak panji disini, aku kira kakak sudah pulang ". kataku terheran - heran.
" tadi kakak suruh diani ambil kunci mobilmu dan menunggumu disini, untyk mengantarmu pulang " kata kak panji.
" tapi, aku sudah besar kak, tak perlu diantar hanya untuk pulang " katakku pada kak panji yang sedang menghidupkan mobil.
" kau memang sudah besar, tapi kau sedang demam, aku tak mungkin membiarkan seorang perempuan bawa mobil sendirian dalam keadaan sakit " katanya yaang kini sedang melajukan mobil.
Sepanjang perjalanan tak ada yang kami bicarakan. Aku hanya terfokus pada jalanan yang basah karna di guyur hujan deras. Saat rambu lalu lintas menyuruh setiap mobil untuk berhent. Aku menatap ke trotoar, disana banyak sekali anak kecil yang membawa kecrekan yang terbuat dari tutup botol dan berkeliaran di bawah rintik hujan mengunjungi setiap pengendara kendaraan untuk mengamen. Seketika itu juga air mataku tumpah. Kak panji melirikku.
" kau kenapa menangis nina ?? " kata kak panji dengan tatapan cemasnya
" tidak kak, aku hanya menguap, sepertinya aku mengantuk " katakku berbohong.
" baiklah, tidur saja kalau begitu, mungkin di depan macet panjang " kata kak panji sambil terus melajukan mobilnya.
Aku bukan mengantuk, tapi aku merasa iba pada mereka yang bersusah payah mencari nafkah hanya untuk mendapatkan sesuap nasi, sedangkan kita, masih dapat merasakan hidup enak. dan memiliki segalanya. Aku tidak tertidur sampai mobil berada tepat di beranda rumahku. Hujan masih deras, tak mungkin aku keluar mobil dalam keadaan hujan seperti ini.
" tunggu disini nina, aku akan membawa payung untukmu " kata kak panji menyuruhku untuk menunggu.
" Tak perlu kak, bibi sedang kemari membawa payung untuk kita " katakku yang sudah melihat bibi berjalan keluar melalui jendela.
bibi dan paman keluar rumah menuju mobil kami dan kak panji tidak membiarkanku untuk berjalan. Dia menuju pintu sebelah dan membawaku pada pangkuannya. Aku sudah seperti anak kucing yang meringkuk dalam pangkuan sang majikan. Darahku berdesir karna kaget melihat yang ia lakukan padaku. Sampai kedua manik mata kami bertemu dengan tiba - tiba.
" Sampai di kamarmu tuan putri, nyaman sekali kau meringkuk di gendonganku tak lihat apa tanganku kesakitan menggendongmu tau " kata kak panji sambil tersenyum.
" maaf kak, baiklah turunkan aku segera " katakku minta untuk di turunkan.
" tidak akan, aku akan mengantarmu ke tempat tidurmu nina " kata kak panji tersenyum nakal. membuatku sedikit jengkel dan membentaknya saat itu juga.
" lekas turunkan aku kak, aku bisa berjalan sendiri, kau tak petlu mengantarku hingga ke tempat tidur " katakku membuat kak panji segera menurunkanku.
" baiklah, segeralah istirahat, aku indur diri intuk pulang kalau begitu ". katak kak panji sambil pamit pulang pada bi sumi, yang akan mengurusku.
Tepat satu minggu ke depan, acra pramuka akan segera dilaksanakan. Aku tak mengerti keadaan disana sekarang. Karna aku terbaring lemah di atas kasur empukku. Jujur rasanya tak enak jika harus sakit. seluruh tulang yang ada serasa remuk tak karuan. Kata dokter selama tuga hari aku tak boleh bergerak. Padahal aku hanya demam biasa, tidak parah bukan. Dokter memang selalu berlebihan.
" kakak, aku mau memperlihatkan sesuatu pada kakak " kata adelia seraya masuk ke kamarku.
" apa itu adelia, jangan bikin kakak penasaran oke " katakku penasaran
" ini, kak evan jadi juri drama di sekolahku dan kelompok kami menang " kata adlia dngan gembira.
" wah, adik kakak memang pintar, tapi bocah tengil itu tak menggodamukan !!" katakku menggodanya.
" apaan si kak, jangan bikin aku malu dong " kata adelia tersipu.
" haha, adiku lucu kalau pipinya udah merah " kataku sambil tertawa. Padahal hati kecilku berkata lain seolah enggan memberikan evan begitu saja pada adikku yang cantik ini.
Sejak pertama kali evan datang menjemputku ke rumah karna mobilku mogok.
Adelia terus saja memandangnya tanpa henti. Sakit rasanya jika orang yang aku kagumi harus bersanding dengan orang lain meskipun itu adikku sendiri. Tapi inilah cinta. Rela melihat orang yang kita sayang bahagia dengan yang lain. Sudahlah yang penting sekarang itu adalah kesehatanmu nina. Buat apa berpikir tentang cinta. Kamu kan masih anak sekolah. Belum waktunya memikirkan itu tau.
Akhirnya, satu minggu kemudian aku sembuh dan bisa mengikuti kegiatan sekolah dengan hati yang tenang dan gembira. Bangun di pagi hari menghirup udara segar dari beranda rumah ketika membuka pintu. Rasanya menyenangkan, sudah dapat menghirup udara luar.
" kakak aku berangkat ya " kata adelia sambil mengecup pipiku dan berjalan melewatiku.
" dengan siapa kau berangkat adel " kataku hingga tak lama kemudian motor reza sudah ada di depan mataku.
" dengan reza kak, aku duluan kak, semangat kak " kata adelia sambil berlalu pergi dari pandanganku.
Reza adalah tetangga kami, dan sekaligus teman satu angkatan adelia di sekolah.
Orangnya agak bandel, tapi kalau sama perempuan dia berubah drastis. Makannya aku tak masalah jika adelia berangkat dengan reza ke sekolah.
" de nina, air sudah dihangatkan, mau mandi sekarang apa nanti " kata bi sum tiba" sudah di belakakangku.
" eh, bibi membuatku kaget saja, biarkan saja dulu bi, aku masih ingin menikmati udara pagi yang sejuk ini ". katakku kembali menikmati udara pagi yang terlihat begitu indah.
" baiklah kalau begitu, tapi sudah pukul delapan lebih de, kata den panji dia akan menjemput satu jam lagi " kata bi sum memberi tahuku.
" apa !! baiklah bi, aku akan mandi sekarang, kak panji selalu saja membuatku harus sigap " kataku sambil berlalu meninggalkan bibi menuju kamar mandi.
Aku baru ingat satu hal jika pakaianku belum tersedia. Aduh kacau sekali aku. Semua ini gara - gara dia. Awas kamu kak panji lihat pembalasanku. Dari kamar mandi aku berteriak memanggil bibi untuk menyiapkan pakaianku dan segala sesuatunya.
" bibiiiii bisakah bibi menyiapkan pakaianku dan menyimpannya diatas kasurku " kataku sedikit berteriak sambil menyikat gigi.
" cepat nina, orang lain sudah menunggumu di tempat acara " kata evan.
" lho kok lu si van, bi sum mana ?? , dan kapan lu dateng, terus ngapain nyelonong masuk kamar gue, gak sopan lu " kataku merutuki evan yang tidak sopan.
" udah, mandi aja lu, gue udah siapin baju lu, dan gue simpen di atas kasur sesuai permintaan lu, bi sum lagi bikin sarapan lu, gue baru aja dateng dan sorry gue di suruh bi sum, karena bii sum di dapur kerepotan " kata evan panjang lebar..
" iya iya, udah keluar sana, gue udah beres, gak mungkin kan gue keluar cuma pake anduk dan lu ada di kamar gue " kataku menunggunya keluar rumah.
" kenapa tidak, belum pernah kan gue lihat lu keluar cuma pake anduk doang, jadi ini kesempetan gue " kata evan sambil tertawa.
" sialan lu kampret, keluar kagak, kalau lu gak keluar dari kamar gua, gua bakal terus diem di kamar mandi " kataku masih terus menyuruhnya keluar.
" oke oke, gue keluar nih " kata evan sambil berlalu pergi ke luar kamar.
Aku segera keluar dari kamar mandi sesaat setelah mendengar langkah kakinya menjauh dan mendengar suara pintu yang tertutup. Akhirnya, aku bisa tenang sekarang setelah debaran jantungku yang kencang tadi. Rasanya melebihi gugup di atas panggung. Aku segera memakai baju yang telah ia sediakan di atas kasur beserta atributnya. Melamun depan cermin sambil sesekali tersenyum melihat penampilanku.
" baik aku siap, tarik nafas dan buang " katakku seolah mempersiapkan diri. Seraya keluar kamar jantungku kembali berdegup kencang. Tarik nafas dan lepaskan. Dia mlamun melihatku keluar dari kamar menghampiri lalu mengamit tanganku dan segera pamit pada bibi.
" bibi aku dan nina undur diri pamit, assallamualaikum " kata evan pamit pada bi sum. Sambil berjalan keluar rumah menuju mobil.
" hati - hati den " kata bi sum sambil tersenyum.
Kami berdua membalas senyumannya seraya pergi meninggalkan rumah. Hening, ya sepanjang perjalanan tak ada hal penting yang kami bicarakan. Seolah lupa pada hal tadi pagi. Suasana begitu tenang, dan aku melihat hal berbeda pada dirinya pada saat membawa kendaraan. Dia tampak begitu menawan hari ini. Sampai aku senyum - sendiri membayangkannya.
" orang aneh " katanya, dan aku mendengarnya, secara spontan aku melemparkan buku yang aku pegang tepat di kepalanya.
" PLAKK !!, sakit tau na, masalah tadi ya, oke gue minta maaf deh, gua gak punya maksd aneh kok, gue cuma disuruh bibi nyiapain baju lu, udah itu aja gak ada yang lain " katanya menjelaskan panjang lebar.
Aku hanya diam tak mampu menjawab. Kedaan kembali hening sampai tiba di tempat acara. Saat itu juga, kedua manik mata kami bertemu.
BERSAMBUNG, ( PART DUA )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar