Senin, 25 Juli 2016

Ramadhanku kenanganku

        Allhamdulilah, ramadhan kali ini aku masih sendiri. Ini bukan pilihan, melainkan sebuah prinsip. Karena pada nyatanya aku tak sepenuhnya sendiri. Hanya hati yang masih sepi. Keluarga masih senantiasa menuntunku pada jalan yang benar. Ayah, ibu, dan adik - adik, yang selalu membuat suasana rumah terasa hangat dengan setiap gurauan yang mereka lalukan. Berkumpul setiap kali mendengar adzan maghrib berkumandang. Berbuka bersama sanak sodara itu sangatlah menyenangkan. Pergi ke masjid untuk melaksanakan shokat tarawih bersama tetangga juga sangat menyenagkan. Senantiasa menjalin tali silaturahmi antar warga sekitar. Kembali bercanda ria bersama keluarga tercinta di bawah atap rumah sederhana. Terkadang bernyanyi bersama atau sekedar berebut remote televisi.
" kak, aku gak mau nonton film ini" kata aldi pada fahmi sambil merebut remote yang di pegang fahmi.
" aldi apaan sih, main rebut aja lagi asik tau tuh filmnya" sambil kembali merebut remote di tangan aldi..
       Begitulah tingkah kedua anak itu ketika sama - sama sedang berada di depan televisi hanya untuk melihat acara kesayangan mereka yang bertolak belakang. Ibu hanya geleng - geleng melihat tingkah mereka berdua. Ayah sudah pasti ada paling depan untuk melerai mereka agar tidak bertengkar. Maka aku hanya mengurung diri dalam kamar, mengerjakan tugas sekolah yang selalu menumpuk.
" Salmaaa, makan buah dulu yu, tugasnya simpan lagi untuk nanti, jangan terlalu kelelahan sampai lupa makan seperti itu " kata ibu sedikit mengoceh pada salma.
" baik bu, salma turun " jawab salma sambil membereskan buku yang ada di atas meja belajarnya lalu berjalan turun ke tempat mereka berada.
       Salma, seorang perempuan yang sangat pendiam di luar rumah namun sedikit cerewet ketika berada dalam rumah. Sangat suka belajar dan mengurung diri di kamar. Hobinya baca buku atau komik dan menyanyi di kamar mandi. Yang paling penting adalah dia sangat menyayangi keluarga juga belum pernah merasakan apa itu pacaran.
Sekarang salma sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas di indonesia dengan jurusan ekonomi teknik.
" Bagaimna kuliahmu salma ?" kata ayah mendadak bertanya.
" kuliahku baik ayah tak ada kendala sedikitpun " jawabku seraya tersenyum pada ayah.
" salma, jangan terlalu menekan otakmu dengan pelajaranmu, mainlah keluar bersama teman perempuanmu, pergi belanja atau sekedar keliling kota " kata ibu yang selalu menghawatirkannya.
" ibu, di luar berbahaya, banyak hal yang tak kita ketahui di sana, dengan membaca buku kita akan tau semuanya juga kan bu " kataku sambil terus memakan apel di mangkuk atas meja.
" kamu juga butuh hiburan salma " kata ibu pada salma.
" iya bu, baiklah, besok aku akan main dengan teman - teman. Hey fahmi kenapa dari tadi kok cemberut mulu si, jelek tau " kataku pada fahmi sambil sedikit menggoda.
" apaan si kak, tuh aldi tuh, main rebut aja kak " kata fahmi pada kakaknya.
" haha, rebutan mulu si,kalian ini lucu deh ( suara adzan isya berkumandang ) ayo ke masjid " kata salma mengajak semua orang.
      Kami semua pergi ke masjid bersama, bertemu dengan tetangga juga sanak saudara. Ramadhan baru berlangsung selama satu minggu. Selama satu minggu itu semuanya terlihat lancar - lancar saja. Salma masih senang dengan kegiatanya sendiri sedangkan adik - adiknya masih tetap berebut barang seperti biasa. Sepulang kami dari masjid. Yang terlihat berbeda hanya ayah, ayah tampak gelisah beberapa saat lalu setelah mendapat telpon dari kantor.
" ayah kenapa, apa ayah punya masalah, jika ayah punya masalah, ayah bisa cerita pada kami " kata salma membujuk.
" iya ayah, cerita saja kami bisa menjadi pendengar setia ayah kok. hehe " kata fahmi dan aldi menimpali dengan kompak.
" ayolah sayang, ceritakan saja apa yang sebenarnya terjadi " kata ibu kembali membujuk ayah.
" baiklah, akan ayah ceritakan, besok ayah akan pergi... " belum selesai menyelesaikan kalimatnya aldi langsung memotong.
" ayah mau pergi kemana ??" kata aldi dengan nada sedih.
" dengarkan ayah dulu jagoan " kata ayah seraya memeluknya.
" besok ayah akan pergi ke luar kota menyelesaikan proyek yang belum terlaksana disana, mungkin ayah akan pulang setelah idul fitri " ayah melanjutkan ceritanya sampai selesai.
       Salma, fahmi, dan aldi, hanya melamun mendengar ayahnya mengatakan hal itu. Meskipun mereka sudah besar, tapi mereka belum terbiasa ditinggal ayahnya pergi ke luar kota. Apalagi selama ramadhan ayahnya selalu ada di rumah. Sekarang kami harus merasakan ramadhan tanpa ayah. Meskipun hanya beberapa minggu. mereka semua masih terdiam. Sampai ibu mengeluarkan suara.
" lho, kalian ini malah pada bengong " kata ibu membuyarkan lamunan mereka.
" yah, nanti lebaran gak sama ayah dong, ya udah gak apa deh, yang penting ayah sehat terus ya disana. Ibu, kak salma, kak fahmi, sama aldi sayang ayah. cepat pulang ya ayah" kata aldi dibalas dengan senyuman kami semua.
     Keesokan paginya aku mengantar ayah ke statsiun. Kota yang ditempuh ayah tidak terlalu jauh jadi ayah memilih menggunakan kereta. Yang aku katakan pada ayah hanya kalimat hati - hati dengan di jawab dengan kalimat jaga diri baik - baik. Dalam hati aku berseru ya ayah aku akan jaga diri dengan baik. Setelah pamitan dengan ayah, aku bertabrakan dengan seorang pria.
" BRUKK, ah maaf aku tak sengaja " sambil membungkuk membantu mengambil barang yang jatuh.
" justru aku yang salah karna terpesona pada bidadari secantik dirimu ( memuji ) kenalkan namaku edwin " seraya menyodorkan tangan untuk bersalaman.
" maaf, namaku salma" sambil agak sedikit menjauh seolah tak ingin tersentuh.
" oh ya, aku mengerti, juga nama yang cantik " kata edwin kembali memuji sambil menurunkan tangannya.
" terimakasih, tapi maaf aku tak bisa lama - lama, aku harus pergi ke kampus, assalammulaikum" seraya pergi tanpa menunggu jawaban dari edwin.
     Satu hari sudah ayah pergi ke luar kota. Kini pertama kalinya kami pergi tarawih tanpa ayah. Hanya ibu, aku, dan kedua adikku. Namun suasana masih seperti biasa. Suara petasan yang di nyalakan oleh teman sebaya aldi juga fahmi masih mengiringi. Setibanya di masjid, aku kembali berpapasan dengan pria yang ku temui di bandara tadi.
" hey salma, ternyata kota ini kecil ya, kau masih mengingatku kan ?" kata edwin seraya menghampiri salma, namun salma agak menjauh.
" maaf aku sudah berwudlu, dan ya sepertinya aku masih mengingatmu kamu edwin kan ?" kata salma sedikit lupa.
" ya tepat sekali, ternyata kamu masih ingat padaku, terima kasih ya allah bidadari cantik di hadapku ini masih mengingatku " kata edwin seperti tengah merayu. Namun salma meninggalkannya sendiri tanpa berkata. Edwin hanya tertawa sambil mengelelngkan kepalanya.
      Sampai di rumah, edwin masih terus membayangkan paras cantik salma. Lalu dia berinisiatif untuk mencari tau tentang salma. Buka sosmed, yang pertama adalah facebook. Akhirnya edwin menemukan satu akun bernama salma zania. Ternyata di dalamnya tak ada yang aneh. Lalu sepintas ia menemukan satu hal penting yaitu tanggal ulang tahunnya. " akhirnya, ini yang sebenarnya tengah aku cari dari tadi " edwin menggerutu dalam hati.
        Sedangkan di rumah salma. Ia masih saja berkutat dengan buku perkuliahan karna besok dia harus menghadapi kuis. Seketika pikiranya teralihkan oleh bayangan dari luar jendela. Dengan rasa takut dia menghampiri jendela lalu membukanya. Ternyata itu edwin.
" selamat malam cantik, sedang apa ?" kata edwin.
" tidak sopan, datang ke rumah perempuan dengan mengintip lewat jendela, menakuti saja, kenapa tidak jalan depan sekalian " kata salma mengomel pada edwin.
" aku minta maaf, ada saatnya aku bertamu secara resmi ke rumahmu, sepertinya kamu baik - baik saja assallamualaikum cantik " edwin pergi tanpa menunggu jawaban dari salma.
      Salma kembali menutup jendela kamarnya setelah menjawab salam dari edwin meskipun edwin sudah pergi jauh. Setelah menutup jendela kamarnya dia melamun. Tanpa sadar dia mengatakan " apa maksudnya datang secara resmi ke rumahku, dasar edwin aneh" kata salma sambil meneruskan belajarnya, hingga larut malam dan tertidur di atas buku yang masih berantakan. Salma terbangun saat sahur, seluruh badannya sakit sampai ia susah utuk beranjak dari kursi. Akhirnya ibu harus sedikit membantu salma untuk bangun.
      Saat pagi tiba, dan setelah tubuhnya agak sedikit nyaman dia segera bersiap dan pergi ke kampus. kelas sudah penuh oleh para mahasiswa. Tak lama kmudian dosen yang akan memberikan kuis masuk ke kelas. Tak disangka ternyata itu edwin, namun penampilannya jauh berbeda dengan yang sering dilihatnya. "aku baru tau kalau dia seorang dosen di kampus ini kenapa aku baru mengetahuinya sekarang sih" salma menggerutu dalam hati.
" hey, jangan melamun, cepat kerjakan " kata edwin menegur salma yang sedang melamun karnanya.
" yah sepertinya dia tidak mengenaliku disini, baguslah, lebih baik aku selesaikan ini" kata salma dalam hati.
      Kuis telah selesai, dari awal sampai akhir sepertinya edwin benar - benar tidak mengenali salma. " kenapa aku jadi terus memikirkannya begini sih, ada apa denganmu salma" kata salma. Lalu dia mendengar suara tangis ibunya dari ruang tamu. Dengan sigap semua orang lari menghampiri ibunya. orang pertama yang bersuara adalah aldi.
" ibu kenapa ? kata aldi disusul oleh fahmi yang terlihat panik menanyakan hal yang sama.
" ada apa bu, apa yang terjadi ?" kata salma juga terlihat panik.
" ayahmu sayang, ayah kalian" kata ibu masih terus dibanjiri oleh tangisan.
" ada apa dengan ayah ibu, apa yang terjadi dengan ayah " kata salma tak henti.
" ayah kalian meninggal dalam tugas, saat sedang ikut turun tangan membantu para pekerja, ayah tertimpa material bangunan " kata ibu membuat salma kembali berlari ke dalam kamar lalu menangis sejadi - jadinya.
      Besok adalah hari raya, dengan suasana berduka kami tidak melaksanakan idul fitri seperti beberapa tahun kebelakang. Kali ini benar - benar tanpa ayah. Memang menyedihkan tapi kami harus tetap ikhlas dan kembali seperti sedia kala. Kenangan kami adalah ketika ayah selalu ada disisi kami. Lalu kenanganku adalah saat ayah mengajariku mengendarai mobil kesayangannya. Meskipun semuanya berjalan dengan lancar kesedihan masih menyelimuti kami berempat.
" ibu ayo pulang, ibu harus ikhlas melepas kepergian ayah, ibu tidak sendiri, ibu masih punya kami bertiga, ayah pasti senang jika ibu tersenyum melihatnya pergi dengan tenang " kataku sedikit menghibur ibu.
      Dua tahun setelah kepergian ayah. Aku lulus dengan nilai terbaik juga adik- adik ku. Fahmi akan meneruskan kuliah ke inggris. Sedangkan aldi akan meneruskan sekokah di indonesia. Aku membantu ibu mengurusi usaha Wedding organizer yang tengah naik daun selama dua tahun ini. Edwin yang sekarang tengah menyelesaikan pertukaran pelajarnya dia australia. Berniat akan melamar salma setelah pulang dari sydney.
      Saatnya tiba, ya hari ini adalah hari lamaran itu. Jantung salma sudah berdegup kencang sedari tadi. Edwin bersimpuh di hadapan kekasihnya seraya berkata.
"Now, I wanna asked you to be my wife, to be my endless love, to be mother for our children, to be Mrs. Anggadireja. Will you?" salma terpaku bahagia menerima ini semua. Ini begitu indah batinnya lalu salma menjawab.
" its so surprise baby but its make feel happy ever after. I will. I will be your wife, your endless love, your childrens mother and I will be Mrs Anggadireja. I will." edwin langsung bangkit dan memasangkan cincin ke jari manis kekasihnya.
Semua orang yang melihatnya bersorak ria. Begitu pula ibu serta kedua adiknya fahmi dan aldi. Edwin ingin merangkul kekasihnya, namun salma tersenyum dan bicara dengan nada kecil yang begitu manis.
" kita belum muhrim edwin" kata salma setengah berbisik yang hanya dibalas senyum oleh edwin. Semua orang yang melihat tingkah mereka hanya mampu tertawa terbahak. Sungguh hari yang bahagia. ☺☺☺
END, STORY NEVER SAD ENDING.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar