Senin, 25 Juli 2016

Ramadhanku kenanganku

        Allhamdulilah, ramadhan kali ini aku masih sendiri. Ini bukan pilihan, melainkan sebuah prinsip. Karena pada nyatanya aku tak sepenuhnya sendiri. Hanya hati yang masih sepi. Keluarga masih senantiasa menuntunku pada jalan yang benar. Ayah, ibu, dan adik - adik, yang selalu membuat suasana rumah terasa hangat dengan setiap gurauan yang mereka lalukan. Berkumpul setiap kali mendengar adzan maghrib berkumandang. Berbuka bersama sanak sodara itu sangatlah menyenangkan. Pergi ke masjid untuk melaksanakan shokat tarawih bersama tetangga juga sangat menyenagkan. Senantiasa menjalin tali silaturahmi antar warga sekitar. Kembali bercanda ria bersama keluarga tercinta di bawah atap rumah sederhana. Terkadang bernyanyi bersama atau sekedar berebut remote televisi.
" kak, aku gak mau nonton film ini" kata aldi pada fahmi sambil merebut remote yang di pegang fahmi.
" aldi apaan sih, main rebut aja lagi asik tau tuh filmnya" sambil kembali merebut remote di tangan aldi..
       Begitulah tingkah kedua anak itu ketika sama - sama sedang berada di depan televisi hanya untuk melihat acara kesayangan mereka yang bertolak belakang. Ibu hanya geleng - geleng melihat tingkah mereka berdua. Ayah sudah pasti ada paling depan untuk melerai mereka agar tidak bertengkar. Maka aku hanya mengurung diri dalam kamar, mengerjakan tugas sekolah yang selalu menumpuk.
" Salmaaa, makan buah dulu yu, tugasnya simpan lagi untuk nanti, jangan terlalu kelelahan sampai lupa makan seperti itu " kata ibu sedikit mengoceh pada salma.
" baik bu, salma turun " jawab salma sambil membereskan buku yang ada di atas meja belajarnya lalu berjalan turun ke tempat mereka berada.
       Salma, seorang perempuan yang sangat pendiam di luar rumah namun sedikit cerewet ketika berada dalam rumah. Sangat suka belajar dan mengurung diri di kamar. Hobinya baca buku atau komik dan menyanyi di kamar mandi. Yang paling penting adalah dia sangat menyayangi keluarga juga belum pernah merasakan apa itu pacaran.
Sekarang salma sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas di indonesia dengan jurusan ekonomi teknik.
" Bagaimna kuliahmu salma ?" kata ayah mendadak bertanya.
" kuliahku baik ayah tak ada kendala sedikitpun " jawabku seraya tersenyum pada ayah.
" salma, jangan terlalu menekan otakmu dengan pelajaranmu, mainlah keluar bersama teman perempuanmu, pergi belanja atau sekedar keliling kota " kata ibu yang selalu menghawatirkannya.
" ibu, di luar berbahaya, banyak hal yang tak kita ketahui di sana, dengan membaca buku kita akan tau semuanya juga kan bu " kataku sambil terus memakan apel di mangkuk atas meja.
" kamu juga butuh hiburan salma " kata ibu pada salma.
" iya bu, baiklah, besok aku akan main dengan teman - teman. Hey fahmi kenapa dari tadi kok cemberut mulu si, jelek tau " kataku pada fahmi sambil sedikit menggoda.
" apaan si kak, tuh aldi tuh, main rebut aja kak " kata fahmi pada kakaknya.
" haha, rebutan mulu si,kalian ini lucu deh ( suara adzan isya berkumandang ) ayo ke masjid " kata salma mengajak semua orang.
      Kami semua pergi ke masjid bersama, bertemu dengan tetangga juga sanak saudara. Ramadhan baru berlangsung selama satu minggu. Selama satu minggu itu semuanya terlihat lancar - lancar saja. Salma masih senang dengan kegiatanya sendiri sedangkan adik - adiknya masih tetap berebut barang seperti biasa. Sepulang kami dari masjid. Yang terlihat berbeda hanya ayah, ayah tampak gelisah beberapa saat lalu setelah mendapat telpon dari kantor.
" ayah kenapa, apa ayah punya masalah, jika ayah punya masalah, ayah bisa cerita pada kami " kata salma membujuk.
" iya ayah, cerita saja kami bisa menjadi pendengar setia ayah kok. hehe " kata fahmi dan aldi menimpali dengan kompak.
" ayolah sayang, ceritakan saja apa yang sebenarnya terjadi " kata ibu kembali membujuk ayah.
" baiklah, akan ayah ceritakan, besok ayah akan pergi... " belum selesai menyelesaikan kalimatnya aldi langsung memotong.
" ayah mau pergi kemana ??" kata aldi dengan nada sedih.
" dengarkan ayah dulu jagoan " kata ayah seraya memeluknya.
" besok ayah akan pergi ke luar kota menyelesaikan proyek yang belum terlaksana disana, mungkin ayah akan pulang setelah idul fitri " ayah melanjutkan ceritanya sampai selesai.
       Salma, fahmi, dan aldi, hanya melamun mendengar ayahnya mengatakan hal itu. Meskipun mereka sudah besar, tapi mereka belum terbiasa ditinggal ayahnya pergi ke luar kota. Apalagi selama ramadhan ayahnya selalu ada di rumah. Sekarang kami harus merasakan ramadhan tanpa ayah. Meskipun hanya beberapa minggu. mereka semua masih terdiam. Sampai ibu mengeluarkan suara.
" lho, kalian ini malah pada bengong " kata ibu membuyarkan lamunan mereka.
" yah, nanti lebaran gak sama ayah dong, ya udah gak apa deh, yang penting ayah sehat terus ya disana. Ibu, kak salma, kak fahmi, sama aldi sayang ayah. cepat pulang ya ayah" kata aldi dibalas dengan senyuman kami semua.
     Keesokan paginya aku mengantar ayah ke statsiun. Kota yang ditempuh ayah tidak terlalu jauh jadi ayah memilih menggunakan kereta. Yang aku katakan pada ayah hanya kalimat hati - hati dengan di jawab dengan kalimat jaga diri baik - baik. Dalam hati aku berseru ya ayah aku akan jaga diri dengan baik. Setelah pamitan dengan ayah, aku bertabrakan dengan seorang pria.
" BRUKK, ah maaf aku tak sengaja " sambil membungkuk membantu mengambil barang yang jatuh.
" justru aku yang salah karna terpesona pada bidadari secantik dirimu ( memuji ) kenalkan namaku edwin " seraya menyodorkan tangan untuk bersalaman.
" maaf, namaku salma" sambil agak sedikit menjauh seolah tak ingin tersentuh.
" oh ya, aku mengerti, juga nama yang cantik " kata edwin kembali memuji sambil menurunkan tangannya.
" terimakasih, tapi maaf aku tak bisa lama - lama, aku harus pergi ke kampus, assalammulaikum" seraya pergi tanpa menunggu jawaban dari edwin.
     Satu hari sudah ayah pergi ke luar kota. Kini pertama kalinya kami pergi tarawih tanpa ayah. Hanya ibu, aku, dan kedua adikku. Namun suasana masih seperti biasa. Suara petasan yang di nyalakan oleh teman sebaya aldi juga fahmi masih mengiringi. Setibanya di masjid, aku kembali berpapasan dengan pria yang ku temui di bandara tadi.
" hey salma, ternyata kota ini kecil ya, kau masih mengingatku kan ?" kata edwin seraya menghampiri salma, namun salma agak menjauh.
" maaf aku sudah berwudlu, dan ya sepertinya aku masih mengingatmu kamu edwin kan ?" kata salma sedikit lupa.
" ya tepat sekali, ternyata kamu masih ingat padaku, terima kasih ya allah bidadari cantik di hadapku ini masih mengingatku " kata edwin seperti tengah merayu. Namun salma meninggalkannya sendiri tanpa berkata. Edwin hanya tertawa sambil mengelelngkan kepalanya.
      Sampai di rumah, edwin masih terus membayangkan paras cantik salma. Lalu dia berinisiatif untuk mencari tau tentang salma. Buka sosmed, yang pertama adalah facebook. Akhirnya edwin menemukan satu akun bernama salma zania. Ternyata di dalamnya tak ada yang aneh. Lalu sepintas ia menemukan satu hal penting yaitu tanggal ulang tahunnya. " akhirnya, ini yang sebenarnya tengah aku cari dari tadi " edwin menggerutu dalam hati.
        Sedangkan di rumah salma. Ia masih saja berkutat dengan buku perkuliahan karna besok dia harus menghadapi kuis. Seketika pikiranya teralihkan oleh bayangan dari luar jendela. Dengan rasa takut dia menghampiri jendela lalu membukanya. Ternyata itu edwin.
" selamat malam cantik, sedang apa ?" kata edwin.
" tidak sopan, datang ke rumah perempuan dengan mengintip lewat jendela, menakuti saja, kenapa tidak jalan depan sekalian " kata salma mengomel pada edwin.
" aku minta maaf, ada saatnya aku bertamu secara resmi ke rumahmu, sepertinya kamu baik - baik saja assallamualaikum cantik " edwin pergi tanpa menunggu jawaban dari salma.
      Salma kembali menutup jendela kamarnya setelah menjawab salam dari edwin meskipun edwin sudah pergi jauh. Setelah menutup jendela kamarnya dia melamun. Tanpa sadar dia mengatakan " apa maksudnya datang secara resmi ke rumahku, dasar edwin aneh" kata salma sambil meneruskan belajarnya, hingga larut malam dan tertidur di atas buku yang masih berantakan. Salma terbangun saat sahur, seluruh badannya sakit sampai ia susah utuk beranjak dari kursi. Akhirnya ibu harus sedikit membantu salma untuk bangun.
      Saat pagi tiba, dan setelah tubuhnya agak sedikit nyaman dia segera bersiap dan pergi ke kampus. kelas sudah penuh oleh para mahasiswa. Tak lama kmudian dosen yang akan memberikan kuis masuk ke kelas. Tak disangka ternyata itu edwin, namun penampilannya jauh berbeda dengan yang sering dilihatnya. "aku baru tau kalau dia seorang dosen di kampus ini kenapa aku baru mengetahuinya sekarang sih" salma menggerutu dalam hati.
" hey, jangan melamun, cepat kerjakan " kata edwin menegur salma yang sedang melamun karnanya.
" yah sepertinya dia tidak mengenaliku disini, baguslah, lebih baik aku selesaikan ini" kata salma dalam hati.
      Kuis telah selesai, dari awal sampai akhir sepertinya edwin benar - benar tidak mengenali salma. " kenapa aku jadi terus memikirkannya begini sih, ada apa denganmu salma" kata salma. Lalu dia mendengar suara tangis ibunya dari ruang tamu. Dengan sigap semua orang lari menghampiri ibunya. orang pertama yang bersuara adalah aldi.
" ibu kenapa ? kata aldi disusul oleh fahmi yang terlihat panik menanyakan hal yang sama.
" ada apa bu, apa yang terjadi ?" kata salma juga terlihat panik.
" ayahmu sayang, ayah kalian" kata ibu masih terus dibanjiri oleh tangisan.
" ada apa dengan ayah ibu, apa yang terjadi dengan ayah " kata salma tak henti.
" ayah kalian meninggal dalam tugas, saat sedang ikut turun tangan membantu para pekerja, ayah tertimpa material bangunan " kata ibu membuat salma kembali berlari ke dalam kamar lalu menangis sejadi - jadinya.
      Besok adalah hari raya, dengan suasana berduka kami tidak melaksanakan idul fitri seperti beberapa tahun kebelakang. Kali ini benar - benar tanpa ayah. Memang menyedihkan tapi kami harus tetap ikhlas dan kembali seperti sedia kala. Kenangan kami adalah ketika ayah selalu ada disisi kami. Lalu kenanganku adalah saat ayah mengajariku mengendarai mobil kesayangannya. Meskipun semuanya berjalan dengan lancar kesedihan masih menyelimuti kami berempat.
" ibu ayo pulang, ibu harus ikhlas melepas kepergian ayah, ibu tidak sendiri, ibu masih punya kami bertiga, ayah pasti senang jika ibu tersenyum melihatnya pergi dengan tenang " kataku sedikit menghibur ibu.
      Dua tahun setelah kepergian ayah. Aku lulus dengan nilai terbaik juga adik- adik ku. Fahmi akan meneruskan kuliah ke inggris. Sedangkan aldi akan meneruskan sekokah di indonesia. Aku membantu ibu mengurusi usaha Wedding organizer yang tengah naik daun selama dua tahun ini. Edwin yang sekarang tengah menyelesaikan pertukaran pelajarnya dia australia. Berniat akan melamar salma setelah pulang dari sydney.
      Saatnya tiba, ya hari ini adalah hari lamaran itu. Jantung salma sudah berdegup kencang sedari tadi. Edwin bersimpuh di hadapan kekasihnya seraya berkata.
"Now, I wanna asked you to be my wife, to be my endless love, to be mother for our children, to be Mrs. Anggadireja. Will you?" salma terpaku bahagia menerima ini semua. Ini begitu indah batinnya lalu salma menjawab.
" its so surprise baby but its make feel happy ever after. I will. I will be your wife, your endless love, your childrens mother and I will be Mrs Anggadireja. I will." edwin langsung bangkit dan memasangkan cincin ke jari manis kekasihnya.
Semua orang yang melihatnya bersorak ria. Begitu pula ibu serta kedua adiknya fahmi dan aldi. Edwin ingin merangkul kekasihnya, namun salma tersenyum dan bicara dengan nada kecil yang begitu manis.
" kita belum muhrim edwin" kata salma setengah berbisik yang hanya dibalas senyum oleh edwin. Semua orang yang melihat tingkah mereka hanya mampu tertawa terbahak. Sungguh hari yang bahagia. ☺☺☺
END, STORY NEVER SAD ENDING.

Rabu, 01 Juni 2016

PENANTIAN

Pada suatu pagi yang cerah, winda telah bersiap pergi menuju kantornya. Baru keluar dari gerbang pintu kost putri ia di kagetkan oleh suara darwin yang sedang asik selonjoran di halaman rumahnya.
" pagi winda, udah cantik nih pagi - pagi, mau kemana ?"
Dengan santai winda menjawab " pagi juga darwin, mau ngantor nih, lu gak ngantor ?, malah asik selonjoran ".
" nanti deh agak siang perginya, lagian di kantor, bos lagi gak ada tuh, winda ! nanti sore lu ada acara gak, kalau gak ada kita jalan yu, sepedaan keliling komplek, udah lama lho kita gak sepedaan lagi" perkataan darwin membuat winda sedikit tersentak. Ya mereka mmang sudah lama tidak sepedaan lagi sejak winda di terima bekerja di sebuah kantor.
Terakhir, hanya saat mereka merayakan kelulusan sekolah.
" hey winda, gmna, bisakah ?"
" eh, oh, iya, bisa - bisa, lagian aku gak terlalu sibuk juga kok di kantor, sepertinya cuaca hari ini cocok untuk bersepeda". Ternyata winda melamun, membayangkan saat mereka terakhir kali bersama. Seketika wendi adik darwin mengagetkannya.
" dor, ayo berangkat, malah ngelamun, nanti telat lho"
" eh, iya wen ayo". sambil mengekor masuk kedalam mobil honda brio milik wendi. Wendi adalah teman sekantorku sekaligus atasanku juga adik darwin. Mereka berdua berbeda, adiknya jauh lebih dewasa daripada kakaknya. Sedangkan darwin dia agak sedikit pemalas. Sepanjang perjalanan kami hanya diam satu sama lain. Sampai wendi mengeluarkan kalimat pertamanya.
" winda, kamu yakin akan bersepeda dengannya ?". Aku sejenak berpikir lalu menjawab.
" ya, aku yakin, dia tak pernah mengingkari janjinya bukan !" kataku meyakinkan.
" ya aku harap begitu " kata wendi ragu - ragu.
" kenapa kau bicara begitu wen ?" tanya winda keheranan.
" ah, tidak, ayo cepat turun, kita sudah sampai, dan semoga nanti sore akan menynangkan " kata wendi berusaha tenang.
" baik, terima kasih " .
Wendi tak seperti kakaknya yang selalu menggoda winda dengan kata seperti tuan putri atau lainnya. Dia tipikal pria yang serius, apapun yang ia ucapkan  tak pernah di selingi bercanda. Terkadang aku merasa takut jika ia memperlakukanku secara lebih.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Aku pulang sendiri karna wendi sedang ada pertemuan kantor. Aku celingukan menunggu taksi yang sudah ku pesan terlebih dulu, setelah tiba aku langsung naik dan melesat menuju rumah. Berganti pakaian dan bersiap kembali pergi menuju taman menunggu darwin. Kami tak pernah bertemu di depan rumah ketika akan pergi bersepeda. Tempat inilah yang menjadi tempat pertemuan antara aku dan darwin.
" langit malam ini memang indah dengan pantulan cahaya bulan purnama " kataku dalam hati. Namun sang waktu telah menunjukan pukul tujuh malam, darwin masih belum tiba di tempat pertemuan mereka. Winda semakin gelisah, sampai akhirnya hujan turun begitu deras membasahin seluruh pakaian yang ia kenakan saat itu. 
Masih tetap menunggu dan menunggu dibawah hujan yang masih turun dengan derasnya. Badannya sudah mengigil kedinginan tapi ia masih tegar menunggu darwin di tempat itu. Matanya sudah berkunang - kunang. Kepalanya sudah terasa pusing, remang - remang ia melihat mobil berwarna putih mendekatinya lalu tak lama ia pingsan di tempat itu.
" winda, aku tau akan seperti ini akhirnya, darwin memang bodoh, biar aku beri dia pelajaran " kata wendi seraya membawanya ke rumah sakit terdekat.
Keesokan paginya, winda terbangun dan kaget melihat dirinya berada di ruangan serba putih.
" oh tidak, dmna aku ? apa aku berada di surga ? apa aku sudah mati ? apa yang telah terjadi ? bagaimana dengan darwin ?, dia pasti sedang menungguku d�isana ?"
Karena ocehan winda yang tak berhenti membuat wendi terbangun.
" winda, akhirnya kau sadar juga, aku sampai tertidur disini menunggumu tersadar, semalam kau pingsan di taman, dan aku membawamu kasini karna tak mngkin aku membiarkanmu sendirian "
" sendiru, bukannya darwin ada beesamaku semalam, kami bersenang - senang menikmati malam dengan bersepeda "
" kamu itu bagaimana dia tidak datang menepati janjinya, dia pergi bersama dua teman wanitanya, kamu hanya bermimpi winda "
mendengar kalimat itu keluar dari mulut wendi, seketika aur mata winda jatuh membanjiri pipinya. dia menangis tersedu karna darwin tak menenpati janjinya. Wendi menghampirinya. Menangkup pipi manis winda.
" sudah, dia tak seharusnya kau tangisi winda, aku sudah memberi pelajaran padanya "
" tapi wendi.. " sebelum melanjutkan kalimatnya wendi segera memeluk tubuh mungilnya mendekapnya erat. Seketika air mata winda kembali berjatuhan karna bahagia. Karna wendi selalu berada di sampingnya ketika ia sedang membutuhkannya.
THE END..

Sabtu, 16 April 2016

Cinta dan kenangan..

      Satu hal yang ditinggalkan cinta adalah kenangan yang masih berbekas dalam hati. Hati yang kini seolah membeku tanpa kehangatan yang berarti. Bukanlah kisah romantis seperti romeo dan juliet. Hanya sebuah catatan kecil yang tertinggal di benakku yang terdalam. Bukan luka namun kenangan, hingga kini kisah itu belum juga sirna.
      Pertama kali melihatnya ia terlihat begitu biasa saja. Sampai kami benar - benar di pertemukan pada salah satu perayaan sekolah. Satu kegiatan yang sudah rutin dilaksanakan setiap tahun. Perubahan yang signifikan kalau itu. Secara langsung membuatku jatuh hati pada sosok tersebut. Sosok pria dengan pakaian pramuka lengkap dengan atribut yang ia kenakan. Seolah mampu membuatku terpesona akan pemandangan itu sendiri. 
      Tepat setelah perayaan selesai, beberapa hari k mudian dia menghubungiku untuk segera menghampirinya. Dengan pakaian sederhana aku datang ke tempat yang ia katakan. Ya, datang hanya untuk meminta selebaran kertas yang berisi tentang kepramukaan. Hari itu juga pertama kalinya dia datang ke rumahku.
    Beberapa hari berlalu, kami semakin akrab dan semakin dekat pada setiap kegiatan yang kami laksanakan. Aku semakin tak mampu bicara ketika berada di dekatnya. Hanya mampu tersenyum dan sedikit mengeluarkan kata - kata yang tak mampu menjadi sebuah kalimat.
     Sampai suatu ketika dia menyampaiakn apa yang ia rasakan selama berada denganku. Seolah terpaksa mengambil sebuah keputusan. Namun memberikan hasil yang mampu membuatku pusing tujuh keliling menghadapinya. Dengan tingkahnya yang terkadang membuatku tersipu sekaligus jengkel padanya. Maka diakhiri dengan sebuah keputusan sepihak.
      Kenangan manis yang tertinggal hanya sebuah kecupan manisnya di keningku yang membuatku terus terpejam selama beberapa detik sebelum ia pergi meninggalkanku. Sendirian dan kesepian. Itu yang membuatku seolah tak mampu bangkit dari keterpurukan yang aku alami. Namun kini itu semua telah menjadi sebuah cerita yang akan ku kubur sedalam mungkin sampai seseorang tak mampu menggalinya kembali. 

Jumat, 01 April 2016

SATU PER DUA

         Berjalan dengan gontai menuju tempat dimana mobilku terparkir. Sambil merutuki diri sendiri, sebab ia menebak mimpiku tadi dengan tepat. Namun agak sedikit meleset karena bibirnya tidak menempel tepat. Sudahlah, mau bagaimna lagi. Setibanya di parkiran aku segera membuka pintu mobil dan kaget karna ada seseorang di jok supir.
" hai, cepat naik, nanti hujan " katanya sambil menyuruhku untuk segera naik.
" kenapa kak panji disini, aku kira kakak sudah pulang ". kataku terheran - heran.
" tadi kakak suruh diani ambil kunci mobilmu dan menunggumu disini, untyk mengantarmu pulang " kata kak panji.
" tapi, aku sudah besar kak, tak perlu diantar hanya untuk pulang " katakku pada kak panji yang sedang menghidupkan mobil.
" kau memang sudah besar, tapi kau sedang demam, aku tak mungkin membiarkan seorang perempuan bawa mobil sendirian dalam keadaan sakit " katanya yaang kini sedang melajukan mobil.
     Sepanjang perjalanan tak ada yang kami bicarakan. Aku hanya terfokus pada jalanan yang basah karna di guyur hujan deras. Saat rambu lalu lintas menyuruh setiap mobil untuk berhent. Aku menatap ke trotoar, disana banyak sekali anak kecil yang membawa kecrekan yang terbuat dari tutup botol dan berkeliaran di bawah rintik hujan mengunjungi setiap pengendara kendaraan untuk mengamen. Seketika itu juga air mataku tumpah. Kak panji melirikku.
" kau kenapa menangis nina ?? " kata kak panji dengan tatapan cemasnya
" tidak kak, aku hanya menguap, sepertinya aku mengantuk " katakku berbohong.
" baiklah, tidur saja kalau begitu, mungkin di depan macet panjang " kata kak panji sambil terus melajukan mobilnya.
    Aku bukan mengantuk, tapi aku merasa iba pada mereka yang bersusah payah mencari nafkah hanya untuk mendapatkan sesuap nasi, sedangkan kita, masih dapat merasakan hidup enak. dan memiliki segalanya. Aku tidak tertidur sampai mobil berada tepat di beranda rumahku. Hujan masih deras, tak mungkin aku keluar mobil dalam keadaan hujan seperti ini.
" tunggu disini nina, aku akan membawa payung untukmu " kata kak panji menyuruhku untuk menunggu.
" Tak perlu kak, bibi sedang kemari membawa payung untuk kita " katakku yang sudah melihat bibi berjalan keluar melalui jendela.
    bibi dan paman keluar rumah menuju mobil kami dan kak panji tidak membiarkanku untuk berjalan. Dia menuju pintu sebelah dan membawaku pada pangkuannya. Aku sudah seperti anak kucing yang meringkuk dalam pangkuan sang majikan. Darahku berdesir karna kaget melihat yang ia lakukan padaku. Sampai kedua manik mata kami bertemu dengan tiba - tiba.
" Sampai di kamarmu tuan putri, nyaman sekali kau meringkuk di gendonganku tak lihat apa tanganku kesakitan menggendongmu tau " kata kak panji sambil tersenyum.
" maaf kak, baiklah turunkan aku segera " katakku minta untuk di turunkan.
" tidak akan, aku akan mengantarmu ke tempat tidurmu nina " kata kak panji tersenyum nakal. membuatku sedikit jengkel dan membentaknya saat itu juga.
" lekas turunkan aku kak, aku bisa berjalan sendiri, kau tak petlu mengantarku hingga ke tempat tidur " katakku membuat kak panji segera menurunkanku.
" baiklah, segeralah istirahat, aku indur diri intuk pulang kalau begitu ". katak kak panji sambil pamit pulang pada bi sumi, yang akan mengurusku.
       Tepat satu minggu ke depan, acra pramuka akan segera dilaksanakan. Aku tak mengerti keadaan disana sekarang. Karna aku terbaring lemah di atas kasur empukku. Jujur rasanya tak enak jika harus sakit. seluruh tulang yang ada serasa remuk tak karuan. Kata dokter selama tuga hari aku tak boleh bergerak. Padahal aku hanya demam biasa, tidak parah bukan. Dokter memang selalu berlebihan.
" kakak, aku mau memperlihatkan sesuatu pada kakak " kata adelia seraya masuk ke kamarku.
" apa itu adelia, jangan bikin kakak penasaran oke " katakku penasaran
" ini, kak evan jadi juri drama di sekolahku dan kelompok kami menang " kata adlia dngan gembira.
" wah, adik kakak memang pintar, tapi bocah tengil itu tak menggodamukan !!" katakku menggodanya.
" apaan si kak, jangan bikin aku malu dong " kata adelia tersipu.
" haha, adiku lucu kalau pipinya udah merah " kataku sambil tertawa. Padahal hati kecilku berkata lain seolah enggan memberikan evan begitu saja pada adikku yang cantik ini.
     Sejak pertama kali evan datang menjemputku ke rumah karna mobilku mogok.
Adelia terus saja memandangnya tanpa henti. Sakit rasanya jika orang yang aku kagumi harus bersanding dengan orang lain meskipun itu adikku sendiri. Tapi inilah cinta. Rela melihat orang yang kita sayang bahagia dengan yang lain. Sudahlah yang penting sekarang itu adalah kesehatanmu nina. Buat apa berpikir tentang cinta. Kamu kan masih anak sekolah. Belum waktunya memikirkan itu tau.
     Akhirnya, satu minggu kemudian aku sembuh dan bisa mengikuti kegiatan sekolah dengan hati yang tenang dan gembira. Bangun di pagi hari menghirup udara segar dari beranda rumah ketika membuka pintu. Rasanya menyenangkan, sudah dapat menghirup udara luar.
" kakak aku berangkat ya " kata adelia sambil mengecup pipiku dan berjalan melewatiku.
" dengan siapa kau berangkat adel " kataku hingga tak lama kemudian motor reza sudah ada di depan mataku.
" dengan reza kak, aku duluan kak, semangat kak " kata adelia sambil berlalu pergi dari pandanganku.
    Reza adalah tetangga kami, dan sekaligus teman satu angkatan adelia di sekolah.
Orangnya agak bandel, tapi kalau sama perempuan dia berubah drastis. Makannya aku tak masalah jika adelia berangkat dengan reza ke sekolah.
" de nina, air sudah dihangatkan, mau mandi sekarang apa nanti " kata bi sum tiba" sudah di belakakangku.
" eh, bibi membuatku kaget saja, biarkan saja dulu bi, aku masih ingin menikmati udara pagi yang sejuk ini ". katakku kembali menikmati udara pagi yang terlihat begitu indah.
" baiklah kalau begitu, tapi sudah pukul delapan lebih de, kata den panji dia akan menjemput satu jam lagi " kata bi sum memberi tahuku.
" apa !! baiklah bi, aku akan mandi sekarang, kak panji selalu saja membuatku harus sigap " kataku sambil berlalu meninggalkan bibi menuju kamar mandi.
    Aku baru ingat satu hal jika pakaianku belum tersedia. Aduh kacau sekali aku. Semua ini gara - gara dia. Awas kamu kak panji lihat pembalasanku. Dari kamar mandi aku berteriak memanggil bibi untuk menyiapkan pakaianku dan segala sesuatunya.
" bibiiiii bisakah bibi menyiapkan pakaianku dan menyimpannya diatas kasurku " kataku sedikit berteriak sambil menyikat gigi.
" cepat nina, orang lain sudah menunggumu di tempat acara " kata evan.
" lho kok lu si van, bi sum mana ?? , dan kapan lu dateng, terus ngapain nyelonong masuk kamar gue, gak sopan lu " kataku merutuki evan yang tidak sopan.
" udah, mandi aja lu, gue udah siapin baju lu, dan gue simpen di atas kasur sesuai permintaan lu, bi sum lagi bikin sarapan lu, gue baru aja dateng dan sorry gue di suruh bi sum, karena bii sum di dapur kerepotan " kata evan panjang lebar..
" iya iya, udah keluar sana, gue udah beres, gak mungkin kan gue keluar cuma pake anduk dan lu ada di kamar gue " kataku menunggunya keluar rumah.
" kenapa tidak, belum pernah kan gue lihat lu keluar cuma pake anduk doang, jadi ini kesempetan gue " kata evan sambil tertawa.
" sialan lu kampret, keluar kagak, kalau lu gak keluar dari kamar gua, gua bakal terus diem di kamar mandi " kataku masih terus menyuruhnya keluar.
" oke oke, gue keluar nih " kata evan sambil berlalu pergi ke luar kamar.
      Aku segera keluar dari kamar mandi sesaat setelah mendengar langkah kakinya menjauh dan mendengar suara pintu yang tertutup. Akhirnya, aku bisa tenang sekarang setelah debaran jantungku yang kencang tadi. Rasanya melebihi gugup di atas panggung. Aku segera memakai baju yang telah ia sediakan di atas kasur beserta atributnya. Melamun depan cermin sambil sesekali tersenyum melihat penampilanku.
" baik aku siap, tarik nafas dan buang " katakku seolah mempersiapkan diri. Seraya keluar kamar jantungku kembali berdegup kencang. Tarik nafas dan lepaskan. Dia mlamun melihatku keluar dari kamar menghampiri lalu mengamit tanganku dan segera pamit pada bibi.
" bibi aku dan nina undur diri pamit, assallamualaikum " kata evan pamit pada bi sum. Sambil berjalan keluar rumah menuju mobil.
" hati - hati den " kata bi sum sambil tersenyum.
     Kami berdua membalas senyumannya seraya pergi meninggalkan rumah. Hening, ya sepanjang perjalanan tak ada hal penting yang kami bicarakan. Seolah lupa pada hal tadi pagi. Suasana begitu tenang, dan aku melihat hal berbeda pada dirinya pada saat membawa kendaraan. Dia tampak begitu menawan hari ini. Sampai aku senyum - sendiri membayangkannya.
" orang aneh " katanya, dan aku mendengarnya, secara spontan aku melemparkan buku yang aku pegang tepat di kepalanya.
" PLAKK !!, sakit tau na, masalah tadi ya, oke gue minta maaf deh, gua gak punya maksd aneh kok, gue cuma disuruh bibi nyiapain baju lu, udah itu aja gak ada yang lain " katanya menjelaskan panjang lebar.
     Aku hanya diam tak mampu menjawab. Kedaan kembali hening sampai tiba di tempat acara. Saat itu juga, kedua manik mata kami bertemu.
             

               BERSAMBUNG, ( PART DUA )

Senin, 28 Maret 2016

SATU PER DUA.

         Seluruh panitia kegiatan pramuka telah berkumpul di depan pintu aula untuk mengadakan rapat kepramukaan. Aku beserta ketujuh rekan sesama dewan bertugas untuk menuntun dan memantau jalannya kegiatan. Namun pandanganku kala itu tak dapat lepas dari seorang pria tinggi,tegap, dan berkumis tipis yang sedang berada tepat di depan pintu kantor kepala sekolah. Sangat menawan, aku terpesona hingga rekanku mengagetkanku.
" hayoo, mandangin siapa !! " sapa diani yang tengah lewat di belakangku.
" enggak kok, gak ada yang dilihatin " katakku sambil mencari dimana dia berada.
" bohong, ketahuan celingukan tuh cari orang " katanya memojokanku.
" ah, sudahlah, ayo ke aula, nanti ka panji marah lagi kita terlambat, kayak gak tau aja kalau dia ngambek ". katakku seraya mengajaknya pergi ke aula.
       Setibanya di aula ka panji menghadangku dan membawaku ke belakang aula. Di bawah pohon besar dia membawaku ke dalam pelukannya. Aku meronta mencoba melepaskan diri. Namun sulit cengkramannya sangat kuat.
" kak tolong lepaskan aku, ini sekolah tak seharusnya kau melakukan ini pada bawahanmu sendiri kak " kataku sambil terus meronta.
" tolonglah nina, aku mencintaimu dari pertama aku melihatmu " kata - katanya berhasill membuatku tak mampu berkata.
    Masih dalam pelukannya aku dapat mendengarkan debaran jantungnya yang sangat kencang.
" degup jantungmu tidak stabil kak, beri aku waktu sesaat untuk berpikir, dan kamu pimpinlah rapat dengan baik bersikaplah profesional di depan semua anggotamu, lupakan dulu masalah kita " sambil melepaskan tangannya dari bahuku dan mengajaknya kembali ke aula.
" sebelumnya terima kasih " sambil berjalan melaluiku. Aku sendiri terdiam di depan pintu selama beberapa menit.
     Tarik nafas dalam - dalam lalu hembuskan, semua kursi terisi penuh dan hanya bangku sebelah evan yang kosong, kini jantungku yang berdegup kencang. Memang sudah biasa aku duduk dengannya pada acara seperti ini, namun kali ini rasanya lain. Karena ada yang berbeda dalam dirinya, dia terlihat begitu mempesona. Dia berhasil membuatku tak berkonsentarsi hari ini. 
" hey na, tak biasanya kau melamun kenapa hari ini kau sering melamun !! " tanya ludwig padaku yang terlonjak kaget gara - gara ulahnya barusan. 
" maaf, sepertinya aku kurang enak badan " kataku, yang tiba - tiba merasa pusing. 
" eh iya na, badan lu panas bener, lu balik gih, minta ijin sana sama kak panji, biar urusan ini evan yang tulis " kata ludwig menyuruhku untuk segera pulang, namun sepertinya aku tak dapat pulang sekarang, karna rapat masih berlangsung.
" enggak deh, nanti aja gua balik kalau udah beres rapat, gua gak mau gangguin kak panji " kataku mnolak permintaan ludwig. 
    Rasa ngantuk yang muncul tiba - tiba, membuatku tertidur pada saat rapat hingga rapat selesai. Sampai kak panji mengahmpiriku dan mencoba membangunkanku namun aku masih saja terlelap.
" kenapa dia ?? " kata kak panji pada evan, yang tepat duduk di sebelahku.
Hanya gelengan kepala dari evan untuk jawaban kak panji sambil mengangkat tangan, lalu ludwiglah yang menjawab.
" dia demam kak, tadi udah aku suruh pulang, tapi dia gak mau, katanya takut gangguin kak panji " kata ludwig menjelaskan dengan baik.
" baiklah kalian temani dia disini, aku akan menunggunya di mobilnya " kata kak panji sambil mencari letak kunci mobilku dalam tas.
     Mereka menungguku hingga aku benar - benar terbangun dari mimpiku. Ya aku bermimpi menikah dengan seorang pria memakai tuksedo hitam. Entah siapa dia, yang aku tau dia pria yang manis, tinggi dan memiliki kumis yang tipis. kami berfua tersenyum sambil menyalami para tamu yang hadir di pesta yang megah itu. Setelah resepsi selesai dan berfoto dia memelukku dengan seblah tangannya dan mencium keningku sesekali namun ciumannya sangat dalam dan memiliki rasa sayang yang kuat. Membuat wajahku merah padam. Setelah gedung tampak sepi dia mengangkat daguku, memiringkan wajahnya lalu memejamkan matanya dan hendak menempelkan bibirnya di bibirku. 
    Namun PRANKK !! . Aku tebangun ketika mendengar suara snar drum yang dipukul ludwig kala itu. Membuat mimpiku buyar saja. 
" huh, akhirnya bangun juga lu, kita udah akaran nungguin lu disini tau, lama bngt si lu tidur " sahut diani sudah kesal. 
" iya, gua kira lu mau nginep disini " sahut indah
" lu mimpi ciuman ya na, daribtadi lu tidur sambil manyun - manyun segala, pasti mimpi ciuman bareng gue kan. Hahaha " kata evan menggodaku.
" apaan si, siapa juga yang mimpi ciuman bareng lu van, jijay bajay dah, mending gua mimpi dicium daniel raddcliff dari pada sama lu van ". kataku pada evan yang tengah menghidaku.
     Begitulah dia jika berhasil menggodaku. Tapi kumis tipisnya mengingatkanku pada sosok pria dalam mimpiku tadi. Tapi masa iya itu evan. Segera ku tepis pikiranku itu dari kepalaku bangun sambil sedikit sempoyongan.
" buruan balik keburu ujan lho " katakku mengajak mereka pulang.


BERSAMBUNG, " SATU PER DUA " part satu. 

Rabu, 16 Maret 2016

Sejarah Berdirinya Hogwarts (About Harry Potter)

         Hogwarts didirikan oleh empat penyihir hebat bernama Godric Griffindor, Salazar Slytherin, Rowena Ravenclaw, dan Helga Hufflepuff pada sekitar tahun 1000 M. Nama-nama mereka kemudian dijadikan sebagai nama asrama murid-murid Hogwarts yang memiliki kepribadian yang sesuai dengan keempat pendiri tersebut. Hogwarts memiliki semboyan "draco dormiens nunquam titillandus" yang berarti "jangan menggangu naga tidur".
      Salah satu pendiri hogwarts yaitu Salazar Slytherin membangun sebuah kamar rahasia yang dihuni oleh monster yang hanya bisa dikendalikan oleh keturunan Slytherin (belakangan diketahui kalau monster ini adalah Basilisk, ular raksasa yang bisa membunuh hanya dengan pandangan matanya). Slytherin membangun kamar rahasia ini dengan harapan agar cita-citanya untuk menjadikan Hogwarts sebagai sekolah sihir hanya untuk mereka yang berasal dari keluarga penyihir dapat terwujud.
      Lokasi Hogwarts sangat dirahasiakan oleh dunia sihir, khususnya terhadap komunitas Muggle (komunitas non-sihir, yaitu orang-orang yang tidak memiliki kemampuan sihir). Rowling menyatakan bahwa Hogwarts terletak di daerah bergunung-gunung dan di salah satu daerah terpencil di Skotlandia, Inggris, di dekat sebuah desa bernama Hogsmeade.
      Hogwarts juga dilindungi dengan banyak sihir oleh setiap kepala sekolah yang sedang menjabat untuk melindungi baik dari komunitas muggle maupun komunitas penyihir. Untuk menyembunyikan keberadaan Hogwarts dari komunitas Muggle, bangunan Hogwarts diperlihatkan sebagai rumah tua yang tidak berpenghuni. Terhadap penyihir, Hogwarts dilindungi dari "penyihir-yang-tidak-diundang". Bahkan penyihir terbaik pun tidak bisa mempergunakan ilmu "apparate" dan "disapparate" (secara sihir menghilang dari satu tempat dan langsung muncul kembali di tempat lain) untuk datang ke dan pergi dari Hogwarts. Walaupun demikian, dalam beberapa bagian dari serial ini, ada celah-celah tertentu yang tanpa sadar tidak terlindungi oleh kepala sekolah, sehingga akhirnya dapat juga dimasuki oleh pihak-pihak lawan.
      Di dekat Hogwarts terdapat suatu desa yang hanya dihuni oleh komunitas sihir, Hogsmeade. Murid-murid Hogwarts dapat memperoleh ijin untuk mengunjungi Hogsmeade mulai tahun ketiga mereka dengan menyertakan ijin dari orang tua/wali.
      Di setiap akhir tahun ajaran, murid-murid Hogwarts wajib mengikuti ujian-ujian sesuai dengan pelajaran yang diambilnya. Namun ada ujian khusus yang perlu diambil di tahun kelima dan ketujuh. Di akhir tahun kelima, mereka wajib mengambil ujian O.W.L (Ordinary Wizarding Levels). Sedangkan di akhir tahun ketujuh, mereka akan mengikuti ujian N.E.W.T (Nastily Exhausting Wizarding Tests).

Ada 4 asrama yg di huni oleh murid Hogwarts yaitu:

> Gryffindor (tempat bagi orang yang gagah, berani, mempunyai hati yang tulus dan kebulatan tekad yang kuat)

> Ravenclaw (tempat bagi orang yang cerdas, cendikia dan mau belajar)

> Hufflepuff (tempat bagi orang yang setia, ulet, pekerja keras dan bertoleransi tinggi)

> Slytherin (tempat bagi orang yang licik, ambisius, dan menghalalkan segala cara untuk kepuasan pribadi)

SEJARAH DETECTIVE CONAN

        
         Shinichi Kudo, seorang detektif SMA berusia 17 tahun yang biasanya membantu polisi memecahkan kasus, diserang oleh 2 anggota sindikat misterius ketika mengawasi sebuah pemerasan. Ia kemudian diberi minum racun misterius yang baru selesai dikembangkan untuk membunuhnya. Namun, karena sebuah efek samping yang jarang terjadi yang tidak diketahui anggota sindikat tersebut, racun tersebut mengakibatkan tubuhnya mengecil seperti anak kecil berusia tujuh tahun setelah mereka meninggalkannya.
         Untuk menyembunyikan identitasnya dan untuk menginvestigasi keadaan sindikat tersebut, yang selanjutnya dikenal dengan nama Organisasi Berbaju Hitam atau Organisasi Hitam, dia menyamarkan namanya menjadi Conan Edogawa. Untuk mencari jejak sindikat tersebut, dia tinggal bersama dengan teman sejak kecilnya, Ran Mouri, yang ayahnya, Kogoro Mouri, merupakan seorang detektif swasta. Dia bersekolah di SD Teitan dan membentuk Grup Detektif Cilik dengan 3 teman sekelasnya, yaitu: Ayumi Yoshida, Mitsuhiko Tsuburaya, dan Genta Kojima. Meskipun tubuhnya mengecil, ia tetap memecahkan kasus. Biasanya, ia menyelesaikan kasus-kasus tersebut dengan meniru suara Kogoro Mouri dengan alat yang diciptakan oleh tetangganya, Profesor Agasa.
        Kogoro Mouri, seorang detektif yang agak bodoh, awalnya bingung pada kemampuan memecahkan kasusnya meningkat secara mendadak. Tetapi, kemudian ia tidak heran karena ia senang karena ketenarannya yang meningkat. Ran Mouri pernah beberapa kali mencurigai bahwa Conan adalah Shinichi, namun karena kecerdikan Conan, maka Ran pun percaya bahwa Conan bukanlah Shinichi.
Selanjutnya dalam seri ini, tokoh utama lainnya, Ai Haibara, muncul. Ai adalah seorang mantan anggota Organisasi Hitam, yang memiliki nama sandi "Sherry". Nama aslinya adalah Shiho Miyano, seorang ilmuan yang mengembangkan racun APTX 4869 yang membuat tubuh Shinichi mengecil. Setelah kakaknya secara kejam dibunuh oleh anggota Organisasi Hitam, ia mencoba keluar dari organisasi itu, namun ia ditangkap.
       Dia mencoba bunuh diri dengan menelan pil APTX 4869, namun ternyata tubuhnya mengecil, dan dia berhasil kabur dari organisasi tersebut. Dia kemudian bersekolah di SD Teitan dengan nama samaran "Ai Haibara". Dia mengetahui identitas asli Conan dan membantunya dalam perjuangan Conan untuk menjatuhkan Organisasi Hitam.
       Kemudian, Conan terlibat dengan Biro Investigasi Federal (FBI), dan mereka berhasil menangkap Kir, seorang anggota Organisasi Hitam. Kir kemudian diketahui merupakan seorang agen CIA yang menyamar, dan berjanji akan memberi informasi tentang Organisasi Hitam kepada FBI. Mereka kemudian mengembalikan Kir ke organisasi tersebut. Kemudian, dia memberitahukan kepada FBI bahwa di Organisasi Hitam ada seorang anggota baru dengan nama sandi Bourbon.


Tentang Orangtua Shinichi
     

     Yukiko Kudo adalah ibu dari Shinichi Kudo. Yukiko Kudo adalah mantan aktris yang sangat cantik dan pintar akting. Dia sangat suka diperhatikan orang dan menjadi Night Baronness. Centil dan suka menantang bahaya. Ia mengetahui bahwa Conan adalah Shinichi anaknya. Semasa bangku sekolah, Yukiko bersahabat baik dengan Eri Kisaki, pengacara terkenal yang merupakan istri Kogoro Mouri.
     Yukiko menikah dengan Yusaku dan mempunyai anak yang cerdas, Shinichi Kudo. Keahlian dari Yukiko adalah menyamar. Ia dan Sharon (artis Internasional) pernah belajar pada seorang guru di Jepang. Yukiko dan Yusaku sekarang tinggal di Amerika.
     Yusaku Kudo adalah ayah Shinichi Kudo yang memiliki kemampuan analisis yang cerdas dan pembuat novel misteri best seller. Kecerdasannya ini juga menurun pada Shinichi.
     Dalam salah satu film Detective Conan, The Phantom of bakker Street, ia menciptakan satu cerita pada game yang dibuat bersama Profesor Agasa, yaitu tentang peristiwa 100 tahun yang lalu. Dalam cerita tersebut, ia memunculkan tokoh favoritnya, Sherlock Holmes, dan seseorang yang dijuluki sebagai musuh besar Holmes sekaligus seseorang yang menyuruh Jack The Ripper untuk mengubah London menjadi kota yang mencengkam (dalam novel Sherlock Holmes).